7026
Hubungi Kami

PEMECATAN SOLSKJAER BUKAN SOLUSI MANCHESTER UNITED, JEBAKAN FERGUSON, MASALAH WOODWARD & GLAZER

Dipecatnya Ole Gunnar Solskjaer memang bukan hal yang mengejutkan, apalagi pasca kekalahan Manchester United dari Watford dengan skor 4-1.

Kekalahan itu bak gong yang berbunyi untuk nasib Solskjaer di Manchester United, dengan Joel Glazer langsung menyetujui permintaan direksi untuk menghentikan pria asal Norwegia ini.

Tetapi, bagaimanapun, Solskjaer adalah legenda Manchester United, dan tentu pemecatan ini tidak mengubah statusnya sebagai salah satu bagian penting dari sejarah klub.

Tidak mudah bagi Ole Gunnar Solskjaer atau siapapun yang menjadi pelatih Manchester United.

Pasalnya, siapapun yang menjadi Manajer atau pelatih Setan Merah, akan sangat terbebani dengan “DNA Manchester United" yang ditinggalkan Sir Alex Ferguson.

Ini juga yang menjebak Solskjaer dan kenyataannya justru menjadi boomerang untuknya bersama Manchester United.

Musim ini, Manchester United kebobolan 15 gol hanya dalam 5 pertandingan, dan secara statistik Manchester United memiliki jumlah kebobolan lebih banyak dibanding Chelsea, Liverpool dan Manchester City.

Bukan hanya itu, mereka hancur kala mengahdapi tim papan atas di Old Trafford, berjumpa Liverpool mereka kalah 0-5 dan Manchester City dengan 0-2.

Di balik semua kekalahan tersebut, Solskjer yang naif, masih berlindung dengan “DNA Manchester United” yang dipercaya oleh jajaran Manajemen.

Tetapi, bagi fans Manchester United, apa yang terjadi di Manchester United bukan hanya kesalahan Solskjaer semata.

Ed Woodward sudah menjadi pesakitan utama sejak ditunjuk, dosa yang dilakukannya di klub sudah membuat banyak supporter setan merah berang.

Woodward adalah pria yang menunjuk David Moyes, Louis van Gaal dan Jose Mourinho, ketiganya dianggap gagal, dan belum rentetan transfer ikonik seperti Fellaini, Marcos Rojo atau tentu saja Alexis Sanchez.

Menariknya, Woodward, entah mengapa, masih sangat percaya dengan Solskjaer di balik rentetan hasil buruk sebelum jeda internasional.

Bandingkan dengan di Tottenham dan Aston Villa.

Tottenham langsung memecat Nuno Espirito Santo setelah kalah melawan Manchester United, dan dengan cepat menunjuk Antonio Conte.

Sedangkan Aston Villa, langsung mengganti Dean Smith dengan Steven Gerrard hanya karena rentetan hasil minor yang diperoleh klub asal Birmingham.

Sejatinya, Solskjaer punya peluang menyelamatkan pekerjaannya, andai mereka menang dari Watford.

Dikutip dari The Athletic dan Manchester Evening News, pihak senior di klub, sangat yakin United menang dari Watfford, yang berarti Solskajer masih akan menjabat sebagai pelatih untuk laga selanjutnya.

Yang terjadi, justru bencana, United kalah 1-4, dan beberapa jam setelah laga, sejatinya Solskjaer sudah dipecat oleh klub, namun masih bernegosiasi mengenai gaji di mana kontraknya masih 3 musim lagi.

David de Gea menggambarkan kekalahan 4-1 sebagai “mimpi buruk.” Solskjaer mengatakan itu adalah yang terburuk yang pernah mereka mainkan dan tidak sepenuhnya jelas apakah yang dia maksudkan musim ini atau seluruh masa kepelatihannya.

Dia mengakui para pemainnya telah "berjuang" dan itu mungkin adalah garis yang paling mengkhawatirkan dari semuanya.

Tetapi jangan hanya berasumsi bahwa pemecatan Solskjaer akan membuat semuanya baik-baik saja di Manchester United.

Manchester United adalah klub yang membingungkan, mulai dari ruang ganti hingga ruang rapat.

Woodward memang sudah mengundurkan diri, tetapi United masih belum memiliki pengganti yang tepat atau setidaknya menunjuk pelaksana harian.

Woodward jarang hadir di pertandingan akhir-akhir ini, opsinya Richard Glazer yang bekerja untuk Tampa Bay Buccanners akan melakukan pekerjaan yang sama di Manchester United.

Bagaimana United menempatkan diri mereka dalam posisi di mana mereka akan kehilangan manajer dan eksekutif tertinggi mereka?

Dan janagn salah, Manchester United akan menghadapi jadwal padat dengan 11 pertandingan dalam 40 hari.

Patrice Evra menceritakan kisah dalam otobiografinya tentang bagaimana laga terakhir bagi Moyes.

Adalah kekalahan 2-0 di Everton ketika seseorang berpakaian seperti malaikat maut di belakang ruang istirahat dan, di luar lapangan, pelatih tim United dikelilingi oleh penduduk setempat yang sombong.

“Salah satu dari mereka melemparkan sesuatu yang memantul dari jendela pelatih.

“Giggsy berdiri di atas pelatih dan berteriak, 'Fans Everton sialan sekarang membuat kami kesal. Cukup sudah cukup'. Dia benar.

“Keesokan harinya, para pemain senior – saya sendiri, Vida, Wayne, Giggsy, Rio dan Michael Carrick – dipanggil ke kantor Ed Woodward.

“Saya kemudian tahu bahwa Woodward telah kehilangan kepercayaan pada David dan tidak terkejut sama sekali ketika dia dipecat.”

Dalam kasus Solskjaer, selalu ada jawaban ketika pertanyaan diajukan ke United tentang mengapa mereka menaruh begitu banyak kepercayaan pada manajer yang tidak berpengalaman yang tidak akan pernah dipertimbangkan untuk pekerjaan itu.

Alasnnya karena momen melawan Barcelona di final Liga Champions 1999.

Tidak diragukan lagi Anda akrab dengan tanggapan Solskjaer seperti:

Kisah Alex Ferguson, pra-kesatria, yang berada di dekat pemecatan setelah tiga tahun bekerja dan semua kejayaan yang mungkin terlewatkan jika klub berhenti mempercayai sang pelatih.

Itu menarik banyak orang, cerita itu. Apa yang cenderung diabaikan adalah bahwa Ferguson adalah pengecualian daripada norma.

Ferguson memulai prosesnya di Aberdeen, bersama Jock Stein, dan membawa timnya juara Piala Winners, sebelum dia setuju untuk mengambil alih dari Ron Atkinson di Old Trafford pada November 1986.

Solskjaer, mantan manajer Molde dan Cardiff City, tidak bisa dibandingkan dengan kondisi yang sama.